Akar Sejarah Peradaban

Membumikan Ideologi, Menginspirasi Dunia

  • Tentang Ayahnya Azka Syakira

Belajar Menantang Kegagalan

Posted by Syamsudin Kadir on 27 Januari 2012
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan sebuah Komentar

“… mari belajar dari kekalahan dan kegagalan anak kecil. Tantanganlah kesalahan dan kegagalan dengan tekad dan semangat. Dengan begitu, Anda akan semakin paham bagaimana menjadi orang sukses dan menjadi pemenang.”

DALAM kehidupan ini selalu ada dua sisi yang berpasangan dan silih berganti. Ada menang dan kalah, ada sukses dan gagal, dan seterusnya. Hampir tak ada kehidupan yang tidak melalui sisi-sisi tersebut. Bahkan kehidupan ini semakin indah jika sisi-sisi tersebut hadir silih berganti. Sederhananya, tidak ada orang yang mengalami kesuksesan jika tidak pernah mengalami kegagalan dan tidak pernah ada orang yang mengalami kemenangan jika tidak pernah mengalami kekalahan. Jika ingin sukses dan menang, maka bersiap-siaplah untuk gagal dan kalah.

“Dalam kehidupan ini, gagal dan kalah itu perlu. Dari kegagalan kita akan lebih paham bagaimana agar jangan gagal berulang-ulang, kemudian kita pun menjadi orang berhasil. Dari kekalahan kita akan lebih paham bagaimana agar jangan kalah berulang-ulang, kemudian kita pun menjadi pemenang.”

 

Orang yang takut gagal selalu menjadikan kegagalan awal sebagai penghambat dirinya untuk mencoba atau mengulangi upayanya dalam mendalami atau mengupayakan satu rencana besar dalam hidupnya. Sebaliknya, orang yang berani gagal selalu menjadikan kegagalan di awal sebagai pintu masuk bagi dirinya untuk mencoba kembali strategi yang pernah dicoba, atau mencoba sesuatu yang baru dari strategi yang pernah dia coba sebelumnya. Lanjutkan Membaca

Rate this:

Islam dan Kehidupan Publik

Posted by Syamsudin Kadir on 26 Januari 2012
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan sebuah Komentar

Tugas dakwah atau aktivitas perbaikan adalah menyemai kesenjangan antara idealis Islam dan kenyataan umatnya. Mencari titik kepastian Islam pada individu dan komunitas umatnya, juga umat manusia seluruhnya. Dengan begitu, akan terjadi gelombang besar islamisasi dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia.

Selanjutnya tugas dakwah juga mencakup: menerangkan mana yang halal dan yang haram, mana yang boleh dan dan mana yang terlarang, memberi jalan keluar bagi semua persoalan yang ada. Baik persoalan pertahanan-keamanan, ekonomi, politik, sosial, budaya,  lingkungan, pendidikan, keilmuan dan lain sebagainya.

Kita percaya akan ada banyak orang yang mengatakan bahwa kalau kita beriman dan bertakwa kepada Allah, melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya; selalu memperhitungkan halal dan haram, yang boleh dan yang terlarang; membersihkan hati dari segala bentuk kotoran dan penyakit, akan menyebabkan datangnya pertolongan Allah. Dan pertolongan Allah itu bentuknya banyak, di antaranya adalah keberhasilan-keberhasilan duniawi. Lanjutkan Membaca

Rate this:

Idealis Islam Memposisikan Umatnya

Posted by Syamsudin Kadir on 21 Januari 2012
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan sebuah Komentar

Salah satu variabel penting yang sering dibicarakan dalam dakwah Islam adalah umat. Secara umum umat bisa didefenisikan sebagai sebuah nama untuk satuan atau elemen yang memiliki visi-misi, konsep, pemimpin dan sejarah. Misi adalah orientasi dan cita-cita keberadaan umat, konsep adalah keseluruhan aturan yang terdapat di dalam risalahnya, pemimpin adalah utusan atau orang-orang yang mendapatkan amanah untuk mendakwahkan risalahnya, dan sejarah adalah periodesasi dan tahapan-tahapan serta peristiwa dakwah yang terjadi di dalam etalase sejarahnya.

Sebagai sebuah entitas sosial, maka umat tentu saja memiliki inti utamanya yaitu umat itu sendiri dan pemimpin umatnya. Berbicara mengenai umat terbaik seperti yang diungkap dalam al-Qur’an adalah mengeja secara apik mengenai kedua hal tersebut.

Yang pertama, pemimpin umat. Menghadirkan pemimpin umat adalah salah satu poin utama dakwah Islam. Dan pada kenyataannya, secara sosiologis jumlah pemimpin itu selalu lebih sedikit bahkan sangat sedikit daripada jumlah umat secara umum. Orang-orang seperti ini memiliki kapasitas dan kemampuan strategis. Cara menghadirkannya hanya dengan satu cara : pengkaderan sistematis. Mengkader para pemimpin umat tentu saja berbeda dengan mengkader umat itu sendiri. Sebab para pemimpin umat itulah yang menentukan umat itu kokoh atau lemah. Semakin kuat dan berkualitas pemimpin umat maka akan kuat dan berkualitas pula umatnya, sebaliknya semakin lemah pemimpin umat maka umatnya pun akan lemah. Lanjutkan Membaca

Rate this:

Testimoni Singkat [Pengantar untuk Buku Testimoni Untuk Umat Islam]

Posted by Syamsudin Kadir on 19 Januari 2012
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan sebuah Komentar

Sumber Inspirasi 

30 Desember 2011 yang lalu saya mendapat undangan dari salah satu organisasi mahasiswa di kampus Universitas Padjajaran (Unpad) Jatinagor-Jawa Barat. Ya, ketika itu saya mendapat undangan dan didaulat menjadi pemateri  pada Studium General (SG) Musyawarah Komisariat (Muskom) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Umar Bin Abdul Azis. Tema acara sekaligus materi yang diamanahkan kepada saya ketika itu adalah Kader Dakwah dan Kontribusi Nyata.

Beberapa hari menjelang jadwal acara saya berusaha mencari berbagai sumber materi yang kira-kira relevan dengan tema yang disuguhkan. Kebetulan pekan-pekan akhir tahun saya lagi mendalami berbagai tema seperti Sejarah Peradaban Islam dan Barat, Kebangkitan Ilmu Pengetahuan dalam Islam dan Sejarah Eropa, Liberalisasi Agama-agama, Kebudayaan Islam dan Barat, Perang Salib dan Sejarah Perjalanan Kaum Muslimin. Saya pun mencari berbagai referensi terkait, dari buku, makalah, artikel hingga catatan-catatan kecil yang pernah saya tulis dan simpan dalam file laptop beberapa tahun sebelumnya.

Akhirnya sayapun mendapatkan buku Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib (Dr. Majid ‘Irsan Al-Kilani), Sulthan Muhammad Al-Fatih : Penakluk Konstantinopel (DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi), Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (DR. Adian Husaini), Membangun Peradaban Barat dengan Ilmu (DR. Hamid Fahmi Zarkasy dkk), Kebudayaan Islam (Mohammad Natsir), makalah Al-Ghazali, Perang Salib, dan Kebangkitan Islam (DR. Adian Husaini), dan beberapa tulisan singkat yang saya tulis beberapa tahun sebelumnya. Lanjutkan Membaca

Rate this:

Mari Belajar Kepada Azka Syakira!

Posted by Syamsudin Kadir on 15 Januari 2012
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan sebuah Komentar

Pak Presiden,

Aku ingin bercerita. Tanpa alur, apalagi sistematika ilmiah. Karena aku rakyat biasa yang hanya bisa bertutur apa adanya. Si kecil, sebut saja namanya Azka Syakira, berdiam diri dalam sebuah kamar sederhana. Si kecil itu merenung. Air matanya bercucuran. Ia menangis. Ia merenung tentang Indonesia yang indah tapi kehilangan; ya ia sedang menyaksikan negerinya kehilangan sosok-sosok teladan, sosok Negarawan. Dalam sebuah kertas kusam ia pernah menulis renungan tentang Indonesia, negeri dimana ia huni kini.

“Keindahan Indonesia kini dikotori oleh manusia-manusia keparat, manusia-manusia jahat. Korupsi di mana-mana. Partai Politik disinyalir tak berperan apa-apa, karena hanya berbuat untuk mengais harta dari kekayaan negara dan tak puas-puasnya mencari kekuasaan tanpa kerja progresif untuk rakyat yang menderita. Untuk tukang ojek yang bercucuran keringat, untuk pengajar tanpa gaji yang maksimum, untuk orang-orang cerdas yang tak terurus, untuk anak-anak jalanan yang sulit memprediksi kebahagiaan di masa depan, untuk tukang bakso yang tak punya rumah, untuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tak jelas gaji dan nasibnya, untuk semua rakyat jelata yang mesti dibela. Indonesia memang kehilangan manusia-manusia terbaiknya.” Lanjutkan Membaca

Rate this:

‘Melawan Dogmatisme Aktivis Liberal’

Posted by Syamsudin Kadir on 8 Januari 2012
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan sebuah Komentar

SAYA memahami Islam sebagai din yang sempurna dan menyeluruh; mencakup seluruh kehidupan manusia. Ia memiliki konsep yang kuat, tak terterjangi kemampuan dan akal manusia yang terbatas. Saya meyakini itu tanpa meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; dalam artian agama yang bisa diotak-atik oleh manusia seenaknya. Ia memang selalu sesuai dengan zaman dan tempat, tapi bukan berarti Islam bisa dirombak konsep dan prinsip-prinsipnya pada etalase ruang dan waktu secara dangkal dan membabibuta. Kesesuaian Islam dengan ruang dan waktu yang dimaksudkan adalah bahwa konsep, nilai-nilai dan pesan-pesan Islam tidak mungkin bertabrakan dengan proses alamiyah dan perputaran sunatullah yang berlaku di alam raya. Islam tidak seperti yang dipahami atau yang diyakini oleh kaum liberal yang memahami : “Islam sebagai agama “abad 7 masehi”, dan karenanya, Islam hanya berlaku untuk zaman itu. Selebihnya, Islam perlu dikontekstualisasikan sesuai selera dan sesukanya. Dalam pengertian bahwa hal-hal prinsip maupun cabang dalam Islam perlu dirombak atau menurut bahasa mereka “digugat.” Kedangkalan pemikiran kaum liberal dalam memahami Islam, dengan begitu, mereka memahami Islam sebagai patung. Sebagaimana galibnya, patung bisa dipahat, dirubah bentuk dan segala macamnya sesuai selera pematung atau pemahat patung. Karena Islam bukan patung, kecuali kaum liberal itu sendiri, bahkan dalam hal tertentu mereka tak jauh beda dengan patung yang bisa dipahat dalam bentuk yang variatif sesuai selera nara sumber pemikran mereka yang kaku.

Saya melihat, kecenderungan yang kuat dan jelas dari ide-ide mereka untuk “memperkosa” Islam, bahkan akhir-akhir ini amat menonjol. Karena itu, saya perlu mengatakan suatu hal: sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menghalangi atau membatasi berbagai kecenderungan liberalisme seperti ini.

Lanjutkan Membaca

Rate this:

Pemenang Antologi Indanya Persahabatan 1

Posted by Syamsudin Kadir on 2 Januari 2012
Posted in: Uncategorized. 8 komentar

Alhamdulillah setelah melewati waktu selama 1 bulan lebih, melalui berbagai kendala ‘kagetan’, dinamika pendapat dan perdebatan tim juri yang begitu sengit, dan masukan dari beberapa sahabat yang berpengalaman dalam dunia kepenulisan, akhirnya dengan mengharapkan ridho Allah dan ketulusan sahabat semua, kami memilih dan memutuskan 35 naskah pemenang untuk Antologi Indahnya Persahabatan 1 (AIP 1 atau Antologi 1). Dengan catatan, naskah yang tidak masuk pemenang Antologi 1, akan diusahakan untuk diterbitkan dalam Antologi Indahnya Persahabatan 2 dan 3 (AIP 2 dan AIP 3). Untuk pememang AIP 2 dan AIP 3 sudah ada, namun kami butuh waktu untuk mengelompokkan berdasarkan ‘karakter’ naskah dan klarifikasi beberapa hal. Karenanya, kami mohon dukungan, do’a dan kesabaran sahabat semua.

Berikut adalah pemenang AIP 1 atau Antologi 1 (*nomor bukanlah urutan pemenang, hanya abjad saja):

  1. Aku dan Pasikbra, Noviana
  2. Bersama Yenni, Ritual Sepiring Berdua, Teni SinLa
  3. Berteman dengan Pelangi, Nihlaa Hilaby
  4. Cerita Tentang Sahabat Saya, Andi, Encep Abdullah
  5. CYS Sahabat  Abadi, Azam Cholidy
  6. Cinta dalam Persahabatan, Dela Oktadiani
  7. Dear Friends, Riska Fajri
  8. Kenangan Yang Terkenang, Nina Nabilah
  9. Kepergian Seorang Sahabat, Zefita
  10. Ketika Sahabat Sejati Menyapa, Lismawati
  11. Lembayung Sang Sahabat, Nur Afiani
  12. Lima Koma Lima, Junior Panda Limbong
  13. Mari Mengoleksi Sahabat dan Teman!, Maya Uspasari
  14. Menepis Ruang Bersamamu, Kaimas Bunshi
  15. Mengenang Nunik Yuniati, A. Azka S.
  16. Menggapai Jejak Bintang, Irfan Fauzi
  17. Mereka Selalu Ada Untukku, Ghofar El Ghifary
  18. Pelangi Hati, Himmah Mahmudah
  19. Persahabatan : Mutiara bernilai Surga, Usman Alfarisi
  20. Pesan Yang Tertahan, Absurditas Malka
  21. Sahabat Bagaikan Soulmat, Yati Rachmat
  22. Sahabat Dalam Badai, Aisyah Prastiyo
  23. Sahabat Sampai Kiamat, Nurbaiti
  24. Sahabat, Bukan seekor kupu-kupu, Rizka Febriyona
  25. Sahabatku Belahan Jiwaku, bidadari_Azzam
  26. Sahabatku Romantis!, Syarfina S. Malem
  27. Sahabatku, Motivatorku, Siti Nurjannah
  28. Salahku Menjadi Lukamu, Zahidah Zulfa Zahira
  29. Sang Kupu-Kupu, Abi Sabila
  30. Selalu Ada Sahabat Baik, Nenny Makmun
  31. Selamanya Sahabat, Devi Liani
  32. Setelah 34 tahun, Bunda Lily
  33. Setetes Embun Untuk Sayitri, Riri Ansar
  34. Terminal di Atas Bukit, Ade Nurhopipah
  35. Terima Kasihku untuk Hatimu, Sahabat!, Chandra Ayudiar Arie

Sahabat, lisan kadang salah berucap, kaki kadang salah melangkah, telinga salah mendengar, pikiran salah menganalisa, mata salah melihat, hati salah menduga,,, Apa yang disuguhkan pada group Kantin Menulis Penerbit Mitra Pemuda selama ini adalah wujud cinta. Kami, sebagaimana sahabat, sedang belajar mencintai negeri ini, mencintai potensi seluruh anak negeri. Mungkin banyak hal yang dituntut dari kehadiran semua anak bangsa di atas bumi pertiwi ini; itu adalah kewajaran. Namun, di atas kesederhanaan dan keterbatasan yang dimiliki, belum banyak yang bisa kami berikan selain belajar dan belajar; minimal untuk mengumpulkan kisah inspiratif sebagian anak bumi pertiwi. Tentang apapun yang mereka tuliskan, termasuk tentang persahabatan. Lanjutkan Membaca

Rate this:

Perang Salib dan Strategi Profetik al-Ghazali[1]

Posted by Syamsudin Kadir on 29 Desember 2011
Posted in: Uncategorized. 1 komentar

Oleh : Syamsudin Kadir[2]


“Jika kamu melihat kegoan ditaati, nafsu diikuti, dunia diutamakan, dan setiap orang yang berilmu membanggakan pendapatnya, maka kamu harus sibuk membenahi diri sendiri dan hindarkan dirimu dari urusan orang banyak.”[3]

 “Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, jiwamu dan lisanmu.”[4]

 

Selintas tentang Perang Salib

Perang Salib dimulai pada tahun 1095. Pada 50 tahun pertama, Pasukan Salib  berhasil mendominasi peperangan. Kekuatan kaum Muslim porak-poranda. Sebagian jantung negeri Islam, seperti Syria dan Palestina ditaklukkan. Ratusan ribu kaum Muslim dibantai. Pasukan Salib yang memasuki Jerusalem (1099) kemudian melakukan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk Kota Suci itu. Di Masjid al-Aqsha terdapat genangan darah setinggi mata kaki, karena banyaknya kaum Muslim yang dibantai. Fulcher of Chartress menyatakan, bahwa darah begitu banyak tertumpah, sehingga membanjir setinggi mata kaki: “If you had been there your feet would have been stained to the ankles in the blood of the slain.”

Seorang tentara Salib menulis dalam Gesta Francorum, bagaimana perlakuan tentara Salib terhadap kaum Muslim dan penduduk Jerusalem lainnya, dengan menyatakan, bahwa belum pernah seorang menyaksikan atau mendengar pembantaian terhadap ‘kaum pagan’ yang dibakar dalam tumpukan manusia seperti piramid  dan hanya Tuhan yang tahu berapa jumlah mereka yang dibantai: “No one has ever seen or heard of such a slaughter of pagans, for they were burned on pyres like pyramid, and no one save God alone knows how many there were.”[5]

Diperkirakan, penduduk Jerusalem yang dibantai pasukan Salib sekitar 30.000 orang. Puluhan ribu kaum Muslim yang mencari penyelamatan di atap masjid al-Aqsha dibantai dengan sangat sadis. Kekejaman pasukan Salib di Jerusalem memang sangat sulit dibayangkan akal sehat. Setahun sebelumnya, pada tahun 1098, tentara Salib itu juga telah membunuh ratusan ribu kaum Muslim di Marra’tun Noman, salah satu kota terpadat di Syria. Paus Urbanus II menyebut musuh kaum Kristen sebagai “The Seljuq Turks”. “Seljuk Turks”, kata Paus, adalah bangsa bar-bar dari Asia Tengah yang baru saja menjadi muslim. Bangsa ini telah menaklukkan sebagian wilayah kekaisaran imperium Kristen Bizantium. Paus mendesak agar para ksatria Eropa menghentikan pertikaian antara mereka dan memusatkan perhatian bersama, untuk memerangi musuh Tuhan. Bahkan, kata Paus, bangsa Turki itu adalah bangsa terkutuk dan jauh dari Tuhan. Maka, Paus menyerukan, “membunuh monster tak ber-Tuhan seperti itu adalah suatu tindakan suci; adalah suatu kewajiban Kristiani untuk memusnahkan bangsa jahat itu dari wilayah kita.”[6] Lanjutkan Membaca

Rate this:

Air Mata Haru untuk Dr. Adian Husaini

Posted by Syamsudin Kadir on 26 Desember 2011
Posted in: Uncategorized. 1 komentar

“Assalamu’alaikum, bagaimana kabar antum? Saya dengar antum sakit. Sakit apa antum? Saya dengar antum sakit tenggorokan, benar?”

“Ya, semoga cepat sembuh! Antum sudah meriksa ke dokter? Kalau belum, usahakan segera meriksa ke dokter. Biar cepat pulih. Saya dulu pernah seperti itu, sering keluar kota mengisi acara, terus sakit. Ternyata kata dokter saya radang tenggorokan. Jadi, antum mesti cepat ke dokter.”

—DR. Adian Husaini—

SENIN 19 Desember 2011, walau masih sakit, saya memaksakan diri untuk “sibuk” dengan berbagai aktivitas. Dari mengecek naskah buku dan lomba, merapihkan tulisan (buku dan artikel), membaca beberapa tulisan (seputar sejarah dan peradaban Islam), dan membantu istri tercinta, Mba Uum Heroyati, merapihkan nilai siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Sabilul Huda Cirebon-Jawa Barat dimana istri mengajar, hingga menyiapkan materi untuk acara Workshop mahasiswa IAIN. Kebetulan saya mendapatkan undangan menjadi pemateri pada salah satu acara akhir tahun di IAIN Syekh Nurjati Cirebon pada Selasa, 20 Desember 2011.

Di tengah-tengah “kesibukan” tersebut, tepatnya pukul 08.20 WIB tiba-tiba HP saya berdering. Pada awalnya saya tak menghiraukan, sebab beberapa hari terakhir—terutama karena tenggorokan yang sangat sakit—saya sengaja tak mau menerima obrolan siapapun yang menghubungi. Tapi karena HP terus bordering dan karena “paksaaan” sang istri, akhirnya saya pun memaksakan diri untuk mengambil HP. Masya Allah, ternyata dugaan saya benar, pasti ada “orang penting”. Ya, ternyata yang menghubungi saya adalah Pak Adian, ya Dr. Adian Husaini, MA. Lanjutkan Membaca

Rate this:

Agar Menulis Tak Sekedar Menulis

Posted by Syamsudin Kadir on 14 Desember 2011
Posted in: Uncategorized. 1 komentar

 

SAAT orang membayangkan apa artinya menjadi seorang penulis, mereka sering membayangkan praktek menulis: memenuhi halaman demi halaman, menyunting paragraf, memeriksa kata-kata dengan hati-hati dan seterusnya.

Ya, itu memang bagian menulis, yang intinya adalah praktek meletakkan pena pada kertas atau jari-jari pada tombol komputer atau laptop. Namun, menulis tentu lebih dari itu.

Bagiku, agar menulis tak sekedar menulis berarti menggabungkan proses kreatif ke seluruh aktivitas menulis. Jamaica Kincaid mengatakan bahwa dia selalu menulis dalam pikirannya, terutama pada saat dia berkebun. Jadi, ketika benar-benar meletakkan pada pena di atas kertas, dia sudah mengubah ceritanya berkali-kali di kepalanya.

Apapun yang sedang Anda lakukan, entah itu berjalan atau mengerjakan tugas sekolah dimana Anda belajar atau mengajar, kampus dimana Anda menjadi mahasiswa atau dosen, kantoran dimana Anda menjadi pegawai atau karyawan dan rumah dimana Anda menjadi kepala, ibu atau anggota rumah tangga, Anda tetap bisa menulis. Oleh karena itu, menulis juga bisa dipahami sebagai proses mengamati, berpikir, menciptakan, merenungkan—lalu menuliskan semua itu. Lanjutkan Membaca

Rate this:

Posts navigation

« Tulisan lama
  • Akar Sejarah Peradaban


    Membumikan Ideologi, Menginspirasi Dunia

  • Halaman

    • Tentang Ayahnya Azka Syakira
  • Kalender Tulisan

    Januari 2012
    S S R K J S M
    « Des    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • Tulisan Terakhir

    • Belajar Menantang Kegagalan
    • Islam dan Kehidupan Publik
    • Idealis Islam Memposisikan Umatnya
    • Testimoni Singkat [Pengantar untuk Buku Testimoni Untuk Umat Islam]
    • Mari Belajar Kepada Azka Syakira!
  • Tulisan Terpopuler

    • Belajar Menantang Kegagalan
    • Testimoni Singkat [Pengantar untuk Buku Testimoni Untuk Umat Islam]
    • Pemenang Antologi Indanya Persahabatan 1
    • Islamic Worldview: Membangun gerakan bernalar wahyu
    • Umat Islam dan Perang Pemikiran
    • Tentang Ayahnya Azka Syakira
    • Liberalisasi Pemikiran Islam; Gerakan Bersama Misionaris, Orientalis dan Kolonialis [1]
    • Idealis Islam Memposisikan Umatnya
    • Perang Salib dan Strategi Profetik al-Ghazali[1]
    • Sekulerisme: Paham Berkelamin Ganda
  • Komentar Pengunjung

    Abu Muzakki on Umat Islam dan Perang Pem…
    Teni SinLa on Pemenang Antologi Indanya Pers…
    ririe khayan on Pemenang Antologi Indanya Pers…
    ycancerina on Pemenang Antologi Indanya Pers…
    hartika yuliasari on Pemenang Antologi Indanya Pers…
  • Rating Terbaik

  • Ah Para Penulis

    • Amin Sudarsono
    • Bambang Kariyawan
    • Bambang Trim
    • Cahyono Adi
    • Dwi Suwiknyo
    • Edo Segara
    • Goenawan Mohamad
    • Gola Gong
    • Helvi Tiana Rosa
    • Irfan
    • Naqiyyah Syam
    • O. Solihin
    • Romi Satria
    • Rurin Kurniati
    • Salim A. Fillah
    • Yons Achmad
    • Yusuf Maulana
  • Harokah dan Ormas Islam

    • DDII
    • FPI
    • HTI
    • Ikhwanul Muslimin (IM)
    • Jama'ah Tablig
    • Muhamadiyah
    • MUI
    • Nahdhotul 'Ulama (NU)
    • NW
    • Persatuan Islam (Persis)
    • Salafy
    • WAMY Indonesia
    • WAMY Internasional
  • Ilmu Pengetahuan

    • IPTEK RI
    • Kesehatan
    • Kitab Klasik
    • Psikologi
    • Sejarah Islam di Indonesia
  • Intelektual Muslim

    • Dr. Adian Husaini, MA
    • Dr. Daud Rasyid, MA
    • Dr. Fahmi Salim Zubair
    • Dr. Syafi'i Antonio
    • Dr. Taufikurahman
    • Prof. Dr. BJ. Habibie
  • Intelijen

    • CIA
  • Kenalan di dunia maya

    • Agung
    • Akhmad
    • Aldo Wilman
    • Candra Nunus
    • Dharma Setyawan
    • Eddy Syahrizal
    • Eika Purwitasari
    • Erlin Fitriyanti
    • Fitriah
    • FS. Megawati
    • Hilal Hudan Nuha
    • Ibnu Yasir
    • Indra Kurniawan
    • Jihad Wamdi
    • Jusman Dalle
    • Kemal
    • Masaagung S
    • Maukuf Al-Masykuri, M.Pd
    • Nurul Azizah
    • Nuryan Ayu
    • Rama Permana
    • Ramlan Nugraha
    • Sumardi
    • Tata Suharta
    • Tetsuko Eika
    • Tuty Herawati
  • Kota-Kabupaten

    • Kab. Cirebon
    • Kab. Indramayu
    • Kab. Kuningan
    • Kab. Majalengka
    • Kab. Manggarai Barat
    • Kab. Sumbawa
    • Kota Bandung
    • Kota Batam
    • Kota Bengkulu
    • Kota Bima
    • Kota Cimahi
    • Kota Depok
    • Kota Kupang
    • Kota Makasar
    • Kota Padang
    • Kota Palembang
    • Kota Surabaya
    • Kota Tangerang
  • Lembaga Negara

    • DPR RI
    • Kepolisian RI
    • Kopasus
    • KPK
    • Mahkamah Konstitusi
    • MPR RI
    • Presiden RI
    • TNI
  • Lembaga Sosial

    • PKPU
    • PPSDMS
    • TRUSTCO
  • Media Islam

    • Dakwatuna
    • Era Muslim
    • Hidayatullah
    • INSISTS
    • Majalah Al-Intima'
    • Majalah Sabili
    • Majalah Tarbawi
    • Majalah Ummi
    • Pemikiran Islam
    • Republika
  • Media Nasional

    • Detik
    • Elshinta
    • Galamedia
    • Media Indonesia
    • Metro TV News
    • Pikiran Rakyat
    • Radar Cirebon
  • Partai Politik

    • Demokrat
    • Golkar
    • PAN
    • PDI P
    • PKB
    • PKS
  • Penerbitan

    • Gema Insani Press
    • Lentera Hati
    • MQ. Publishing
    • Mujahid Press
    • Penerbit Mizan
    • Pro-U
    • Rumah Buku
  • Pengusaha

    • Abu Rizal Bakri
    • Irsan Galih Pranata
  • Perpustakaan

    • Perpustakaan Bali
    • Perpustakaan Jawa Barat
    • Perpustakaan Nasional
    • Perpustakaan NTT
    • Perpustakaan UNJ
  • Pesantren Modern

    • Daarut Tauhid
    • Nurul Hakim
  • Politisi

    • Indra. Jaya Piliang
  • Propinsi

    • Jawa Barat
    • Lampung
    • NTB
    • NTT
    • Papua Barat
    • Sumatra Barat
    • Sumatra Utara
    • Yogjakarta
  • Sekolah Menulis

    • Forum Lingkar Pena
    • Sekolah Menulis Tarbawi
  • Universitas

    • IIUM-Malaysia
    • UGM
    • UI
    • UIKA Bogor
    • UIN Jakarta
    • UIN Yogjakarta
    • Univ. Muhamadiyah Yogja
    • Unram
    • Unswagati Cirebon
    • UPI Bandung
  • Yang aneh-aneh

    • Ahmadiyah
    • JIL
  • Yang sudah mampir

    • 27,740 kunjungan
  • Meta

    • Daftar
    • Masuk log
    • RSS Entri
    • RSS Komentar
    • WordPress.com
Blog pada WordPress.com. Theme: Parament by Automattic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com